Sabtu, 31 Maret 2012

Kesetaraan Gender

A. Latar Belakang Masalah
Suatu keniscayaan bahwa manusia diciptakan Allah dari laki-laki dan perempuan untuk saling melengkapi dan menyempurnakan dalam menjalani rutinitas kehidupan di dunia, dan sebagai tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang mau berpikir.
Dalam Islam sendiri terdapat beberapa aspek hukum yang mempunyai proporsi yang berbeda antara laki-laki dan perempuan, yang perbedaan tersebut akhirnya memancing sementara pihak untuk bangkit menuntut persamaan hak antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai bidang. Perbedaan kapasitas antara laki-laki dan perempuan disinyalir telah menempatkan wanita sebagai pihak yang mengalami marjinalisasi (proses pemiskinan ekonomi), subordinasi (dianggab nomor dua), stereotip (pelabelan negatif), violence (kekerasan), dan doble borden (beban kerja ganda). Yang perlakuan tersebut merupakan fakta yang nyata telah terjadinya deskriminasi terhadapkaum perempuan. 

Dan hukum fiqh Islam yang berlaku saat ini dianggap telah berperan besar terhadap terjadinya pelanggaran dan ketidakadilan terhadap kaum perempuan. Hukum fiqh terbukti tidak mampu menjawab permasalahan sosial yang dialami perempuan. Menyikapi permasalahan tersebut, muncullah tuntutan yang mengatasnamakan dirinya pihak yang peduli terhadap hak-hak perempuan untuk menuntut perlakuan yang adil, dan membebaskan wanita dari label-label yang negatif.

Mereka menuntut kesetaraan antar laki-laki dengan perempuan tanpa adanya embel-embel perbedaan hanya karena perbedaan jenis kelamin. Tuntutan mereka dikenal dengan istilah kesetaran jender. Puncak dari semua tuntutan itu adalah diluncurkannya metode tafsir sensitif jender, karena penafsiran teks-teks syari‟at (al-Qur‟an dan Hadist) dengan metode lama dianggap telah memasung hak-hak perempuan dan telah melenceng dari konsep dasar syari‟at yaitu keadilan dan kemaslahatan.
Tuntutan kesetaraan jender tidak bisa dianggap angin lalu, karena dia terus menggelinding bak bola salju yang semakin lama semakin besar, yang kita tidak boleh menutup mata, dan mau tidak mau harus ditanggapi dengan cara yang bijak.

Berangkat dari permasalah diatas, kami tertarik untuk membuat penelitian yang kami beri judul “MEMBEDAH KONSEP TUNTUTAN KESETARAAN JENDER (al-MUSAWAH al-JINSIYAH)”.


B. Rumusan Masalah
  1. Perlukah melakukan reinterpretasi (penafsiran ulang) terhadap teks-teks syari‟at yang mengandung bias jender?
  2.  Perlukah merekonstruksi (menata ulang) hukum-hukum fiqh yang memiliki bias jender?
  3. Apakah dalil-dalil syari‟at yang secara literal (makna hakiki) membedakan antara laki-laki dan perempuan hanya dikhususkan berlaku pada konteks turunnya?
  4. Bagaimanakah interpretasi yang benar terhadap ayat-ayat dan hadist-hadist yang membedakan antara laki-laki dan perempuan.

C. Tujuan Penelitian
  1. Untuk menganalisa dan membahas dalil-dalil yang dianggab menagdung bias jender.
  2. Untuk menganalisa dan membedakan nas-nas yang khusus pada konteks tertentu dengan nas-nas yang berlaku universal sepanjang zaman.
  3. untuk menganalisa dan membuktikan bahwa nas-nas yang telah diterjemahkan dalam teori-teori praktis oleh ulama sama sekali tidak mengandung muatan politis dan tidak mendeskriminaka terhadap kaum perempuan.

D. Manfaat penelitian
  1. Secara Akademis
    Dari sisi akademis penelitian ini bermanfaat untuk mengetahui hukum fiqh Islam terhadap kesetaraan jender, dan cara istidlal yang benar terhadap ayat-ayat atau hadist seperti yang telah dijabarkan ulama dalam kitab-kitab klasik, untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan bagi tim lajnah MUDI Mesra pada khususnya dan para thulabah umumnya, untuk bisa berhujjah terhadap kelompok-kelompok yang cenderung antagonik terhadap terhadap fiqh Islam saat ini.
  2. Secara Praktis
    Secara praktis, bertujuan agar hasil penelitian ini bisa berguna bagi masyarakat yang merupakan sasaran utama untuk diobok-obok oleh pihak-pihak antagonis agar mereka tetap teguh dan yakin terhadap tatanan fiqh yang sudah ada, agar mereka semakin yakin dalam mengamalkan hukum-hukum syari‟at guna memperoleh kebahagiaan hidup dunia dan akhirat  


    Sekilas Tentang Kesetaraan Gender 

    A. Pengertian Kesetaraan Gender 

    Gender Dapat Diartikan Sebagai Perbedaan Antara Laki-Laki Dan Perempuan Secara Sosial.

    Gender bisa juga dikatakan sebagai semua atribut sosial mengenai laki-laki dan perempuan,misalnya laki-laki digambarkan memiliki sifat maskulin seperti keras, kuat, rasional, gagah; sementara perempuan digambarkan memilki sifat feminin seperti halus, lemah, perasa, sopan, penakut. Perbedaan tersebut dipelajari keluarga, teman, tokoh masyarakat, lembaga keagamaan, dan kebudayaan, sekolah, tempat kerja periklanan dan media.

    Sedangkan kesetaraan gender adalah lelaki dan perempuan tidak dibedakan dari jenis kelaminnya, sebaliknya laki-laki dan perempuan diberi kesempatan untuk maju dan berkembang bersama, tidak ada jenis kelamin yang lebih utama dan diprioritaskan.

    Analisis gender adalah serangkaian kriteria yang digunakan gerakan feminisme untuk mempertanyakan ketidakadilan sosial dari aspek hubungan antarjenis kelamin. Dalam melakukan identifikasi terhadap ketidakadilan ini analisis gender mula-mula membuat pembedaan antara apa yang disebut "seks" dan "gender". Seks, demikian didefinisikan, adalah pembedaan laki-laki dan perempuan yang didasarkan atas ciri-ciri biologis. Sedangkan gender adalah pembedaan laki-laki dan perempuan secara sosial.

    Prof Dr. Nasaruddin Umar mengatakan, ada beberapa variabel yang dapat digunakan sebagai standar dalam menganalisis prinsip-prinsip kesetaraan gender dalam Al-Qur'an. Variabel-variabel tersebut antara lain sebagai berikut :
    1. Laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai hamba.
    2. Laki-laki dan perempuan sebagai khalifah di muka bumi.
    3. Laki-laki dan perempuan menerima perjanjian primordial.
    4.Adam dan hawa terlibat secara aktif dalam drama kosmis.
    5. Laki-laki dan perempuan sama-sama berpotensi meraih prestasi.

    Adapun poin-poin praktis yang dituntut oleh pejuang hak-hak wanita adalah :
    1. Pengakuan terhadap eksistensi politik perempuan.
    2. Pengakuan terhadap kepemimpinan dalam keluarga.
    3. pengakuan untuk berkiprah dalam mengelola ekonomi (lapangan kerja)
    4. Pengakuan untuk menentukan pilihan pribadi.
    5. Pengetahuan untuk beroposisi.

    B. Sejarah Dan Latar Belakang Jender
    Isu jender ini sebenarnya bukanlah hal yang baru, tetapi dia adalah gendang lama dengan irama baru, yang muncul dengan wajah dan penampilan yang berbeda, tetapi esensinya tetaplah sama dari masa ke masa.
    Sebenarnya kelompok-kelompok yang mengatasnamakan dirinya sangat beragam, dan dengan nama dan tema yang bervariasi. Diantara tokoh-tokoh cendekiawan Islam yang pernah mempopulerkannya adalah Afsaneh Najma badeh dan Mir Hosseini dari Iran, Mai Yamani dari Arab sudi, Yesim Arat dari Turki, Hudi Sharawi dari Mesir, Amina Wadud Muhsin dari Afrika Selatan, Rifaat HasanFatima Naseef,Fatima Mernissi dari Maroko, Hidayat Tuksal, Aziza al-Hibri, dan Shaheen sardar Ali.

    Di Indonesia ada juga beberapa tokoh yang lantang menyuarakan tuntutan kesetaraan jender, sepertiNasaruddin Umar, Musdah Mulia, dan Farid Muttaqien. Ada juga yang bergerak atas nama lembaga seperti Rahima, suatu lmbaga non pemerintah yang giat melakukan kajian dalam forum-forum dan seminar-seminar degan topik pembebasan terhadap kaum wanita.

    C. Azas dan Tuntutan Jender
    Kaum pejuang jender mempunyai beberapa alasan untuk menggugat kemapanan hukum fiqh Islam saat ini:
    1. Metodologi Ushul Fiqh klasik yang sampai saat ini masih berlaku untuk mengistinbathkan hukum ternyata tidak mampu menjwab persoalan sosial terutama terhadap perempuan.
    2. Penafsiran secara tekstual tidak efektif, karena teks bersifat statis (tetap/jumud) sedangkan masyarakat bersifat dinamis. Pemahaman yang terikat dengan makna zahir teks dalam jangka panjang tentu tidak akan mampu mengakomodasi dinamika yang terjadi dalam masyarakat. Karena itulah perlu diterapkan pendekatan “hierarkisasi al-Qur?an”.
    3. Penafsiran yang dilakukan ulama silam adalah subjektif, bahkan semua penafsiran adalah subjektif, karena adanya pra-konsepsi sebelum seseorang memahami teks bersesuaian dengan budaya masyarakat setempat.
    4. Salah satu kelemahan fiqh yang ada selama ini adalah tidak adanya perspektif keadilan jender di dalamnya.
    5. Fiqh (syariat) itu bukan Al Quran dan bukan pula sunnah sehingga tidak tertutup kemungkinan untuk dilakukan perubahan di dalamnya. Kita hanya boleh mengubah sampai pada tingkat reinterpretasi atas tafsir-tafsir Al Quran dan sunnah yang telah dilakukan oleh ulama-ulama terdahulu, bukan perubahan atas Al Quran dan sunnah itu sendiri.
    6. Fiqh (syariat) adalah hasil ijtihad manusia yang tidak lepas dari kelebihan dan kekurangan yang sangat bergantung kepada konsep perubahan ruang dan waktu
    7. Berkaitan dengan validitas sebuah interpretasi, tidak ada yang berhak mengklaim suatu interpretasi sebagi sesuatu yang final, universal, dan abadi kecuali al-Quran. Oleh karena itu setiap generasi memiliki hak untuk membuat interpretasi baru yang selaras dengan tuntutan zaman dan selaras dengan kesadaran obyektif masyarakatnya.
    8. Sebagai sebuah hasil proses interpretasi teks Al Quran dan sunnah Nabi saw melalui berbagai persyaratan metodologis dan intelektualitas yang sangat ketat sekalipun, pasti ada saja kelemahannya mengingat manusia secara fitrahnya memang terbatas, seperti ungkapan sebuah hadis populer “Manusia adalah tempatnya salah dan lupa.” Maka kekurangan dan kesalahan pada diri manusia adalah alamiah. Hal itu sangat mungkin terjadi pada fiqh yang merupakan hasil perumusan manusia. Maka sangat masuk akal dilakukan reinterpretasi atas fiqh, bukan untuk menggugat fiqh tetapi justru untuk mempertahankan fiqh.
    9. Fakta historis memaparkan sejak periode Islam Klasik berlalu, penafsiran teks-teks keislaman berada dalam dominasi kaum laki-laki, dan sebagai konskwensinya pengalaman perempuan telah diabaikan dalam refleksi teologis. Peminggiran pengalaman perempuan dalam penafsiran teologi dilakukan, antara lain dengan cara melarang perempuan aktif didunia publik. Pelanggaran itu bermakna menghalangi perempuan untuk terlibat dan mengikut sertakan aspirasi dan pengalaman mereka kedalam perumusan sebagai tradisi agama.
     Ada beberapa indikasi yang mereka jadikan sebagai pendukung perjuangan mereka, yaitu :
    1. Perbedaan hukum fiqh antara antar mujtahid yang berbeda tempat dan zaman memberi sinyalemen kuat terhadap adanya pengaruh masa dan situasi tempat dalam penetapan suatu hukum fiqh.
    2. Membedakan hak-hak perempuan merupakan tindakan yang menentang terhadap semangat al-Qur?an secara umum, yaitu keadilan,kesetaraan dan kemaslahatan.
    3. Setelah diteliti, ternyata ayat-ayat yang secara zhahiriah teks menganung bias jender hanya cocok dalam kasus yang khusus (asbabu al-Nuzul).
    4. Untuk reinterpretasi fiqh, teori maqashid al syariah (tujuan syariat) lebih memungkinkan dijadikan sebagai landasan reinterpretasi fiqh daripada yang lain karena memiliki dasar-dasar yang cukup kukuh. Tujuan syariat ini seharusnya merupakan tulang punggung bagi pembentukan konsep hukum fiqh dan semua wacana fiqh yang terbentuk harus sesuai dengan tujuan awal ini.
    5. Teks hadist yang mensyaratkan pemimpin dari suku Quraiys tidak lagi diabaikan oleh para ulama, kenapa hadist-hadist lain dipertahankan tekstualnya secara berlebihan?
    Ha-hal di atasl juga sesuai dengan prinsip dasar agama Islam sebagai rahmatan lil-alamin, yang berarti juga termasuk rahmat bagi perempuan tanpa terpasung hak-haknya hanya dikarenakan berjenis kelamin perempuan. Dalam Islam juga tidak menganut The Second Sex, yang mengutamakan jenis kelamin tertentu, atau suku bangsa tertentu, sebagaimana ditegaskan dalam AL_Qur?an bahwa yang paling mulai di sisi Allah Swt adalah yang paling baik kualitas takwanya.

    Juga ada pernyataan Umar r.a yang mendukung terangkatnya martabat wanita, yaitu : “Kami dahulu sama sekali tidak memperdulikan kaum perempuan, tetapi setelah Islam datang dan Allah menyebut mereka, kami tersadar bahwa mereka memiliki hak atas kami” (HR. Bukhari).

    Rasulullah juga memberi hak yang sama bagi perempuan ketika terjadi bai?ah aqabah. Dan pada masa Rasulullah Saw banyak sekali ditemukan wanita yang berprestasi cemerlang layaknya laki-laki, dalam bidang politik, ekonomi, dan berbagai sektor publik lainnya, suatu hal yang sekarang sudah langka.

    Islam merupakan agama pertama yang memberikan kebebasan bagi perempuan untuk berkiprah sesuai dengan kemampuannya, suatu hal yang tidak pernah mereka dapatkan sebelumnya. Rasulullah sendiri pernah mengakui legalitas perlindungan yang diberikan oleh Ummmu Hani?terhadap seorang non muslim pada hari penaklukan Mekkah.

Pengelolaan kehasilan harta wakaf kepada mesjid

Lajnah Bahsul Masail MUDI mesra Menimbang :
  1. bahwa permasalahan pengelolaan harta waqaf adalah hal yang umum terjadi dalam masyarakat.
  2. bahwa sering terjadi kesalahpahaman dalam masyarakat tentang pengelolaan kehasilan harta harta wakaf kepada mesjid.
  3. bahwa agar pengelolaan kehasilan dari harta waqaf kepada mesjid sesuai dengan tuntunan syari’at dan tidak terjadi percekcokan dalam masyarakat, LBM memandang perlu menetapkan keputusan tentang Pengelolaan Kehasilan Harta Waqaf Kepada Mesjid untuk dijadikan pedoman bagi pihak-pihak yang membutuhkan.
Mengingat: 
 Nas Syeikh Syarwani dalam Hasyiah Tuhfah Juz VI hal 325.
فرع) ...ويصرف ريع الموقوف على المسجد وقفا مطلقا أو على عمارته فى البناء والتجصيص للمحكم والسلم والبوارى للتظليل بها والمكانس ليكنس والمساحى لينقل بها التراب وفى ظلة تمنع إفساد خشب الباب بمطر ونحوه إن لم تضر بالمارة وفى أجرة قيم لا مؤذن وإمام وحصر ودهن لأن القيم يحفظ العمارة بخلاف الباقى فإن كان الوقف لمصالح المسجد صرف من ريعه لمن ذكر لا فى التزويق والنقش بل لو وقف عليها لم يصح اهـ مغنى
زاد النهاية وهذ المذكور من عدم صرف ذلك للمؤذن والإمام فى الوقف المطلق هومقتضى ماقاله الروضة عن البغوى لكنه نقل بعده عن فتاوى الغزالى انه يصرف لهما كما فى الوقف على مصالحه وكما فى نطيره من الوصية للمسجد وهذا هو الأصح ويتجه إلحاق الحصر والدهن بهما فى ذلك إهـ
 
 Nas Syekh Qulyubi dalam Hasyiah Mahalli Juz III hal 108
فروع) عمارة المسجد هى البناء والترميم والتجصيص للإحكام والسلم والبوارى للتظليل أو لمنع صب الماء فيه لتدفعه لنحو شارع والمساحى وأجرة الفيم
ومصالحه تشمل ذلك وماء لمؤذن وإمام ودهن للسراج وقناديل لذلك
والوقف مطلقا يحمل على المصالح
تنبيه) لو زاد ريع ماوقف على المسجد لمصالحه أو أو مطلقا أدخر لعمارته وله شراء شىء به مما فيه زيادة غلته ولو زاد ريع ما وقف لعمارته ولم يشتر منه شىء ويقدم عمارة عقاره على عمارته وعلى المستحقين وان لم يشترطه الواقف كذا فى العباب
ويجب على ناظر الوقف إدخار شىء مما زاد لعمارته وشراء عقار بباقيه وأفتى بعض المتأخرين بجواز الإتجار فيه إن كان من وقف مسجد وإلا فلا وسيأتى إقراضه
 
Nas Syekh Umairah dalam Hasyiah Mahalli Juz III hal 110
فرع) فضل من ريع الوقف شىء هل يجوز الإتجار فيه أفتى بعض المتأخرين بالجواز إن كان للمسجد وإلا فلا

 Nas Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathu al-Mu’in Juz III hal 182
ويصرف ريع الموقوف على المسجد مطلقا أو على عمارته فى البناء ولولمنارته وفى التجصيص المحكم والسلم وفى أجرة القيم لا المؤذن والإمام والحصر والدهن إلا ان كان الوقف لمصالحه فصرف فى ذلك لا فى التزويق والنقش وماذكرته من أنه لا يصرف للمؤذن والإمام فى الوقف المطلق هو مقتضى مانقله النواوى فى الروضة عن البغوى لكنه لكنه نقل بعده عن فتاوى الغزالى انه يصرف لهما وهو الاوجه كما فى الوقف على مصالحه

Nas Dalam Fatawi Kubra Syekh Muhammad Ramli Juz III, hal 69
سئل) عما اجاب به السبكى أن للناظر أن يتجر فى مال المسجد لأنه كالحر دون غيره هل هو المعتمد أم لا؟ وما الفرق بين المسجد وغيره؟
فأجاب) بأنه المعتمد والفرق بين المسجد وغيره ماذكره أن المسجد كالحر أى فى أنه يملك بالشراء والهبة والوصية والشفعة ونحوها بخلاف غيره

Memperhatikan:
Pendapat peserta Mubahasah Lajnah Bahsul Masail pada hari Ahad, tanggal 13 Shafar 1430 H./08 Februari 2009 M.

MEMUTUSKAN
Menetapkan: 
KEPUTUSAN TENTANG PENGELOLAAN KEHASILAN HARTA WAQAF KEPADA MESJID

Pertama:
Macam-macam Waqaf Kepada Mesjid
  1. Waqaf secara mutlak.
  2. Waqaf untuk maslahah.
  3. Waqaf untuk ‘imarah
  4. Waqaf untuk salah satu maslahah (yang selain ‘imarah) yang ditentukan (disyaratkan) oleh si waqif.
Kedua:
Cara Pengelolaan Masing-masing Hasil dari Harta Waqaf Tersebut.
  1. Waqaf yang mutlak dihamalkan kepada maslahah. Maka hukum pengelolaan hasil dari harta waqaf yang mutlak dan yang untuk maslahah adalah sama.
  2. Hasil dari harta Waqaf yang untuk ‘imarah, maka tertentu pemakaiannya untuk ‘imarah.
  3. Hasil dari harta waqaf yang disyaratkan untuk maslahah tertentu, maka dipergunakan untuk maslahah tertentu tersebut (merealisasikan syarat si waqif).
Ketiga: 
Cara Pengelolaan Sisa (Kelebihan) Dari Harta Waqaf yang Mutlak dan yang Untuk Maslahah.
  1. Sisa dari hasil harta waqaf yang mutlak/untuk maslahah di simpan oleh nadhir atau dibeli tambahan aset yang dapat meningkatkan kehasilan (iqar).
  2. Wajib menyimpan sisa dari hasil harta waqaf (mutlak/untuk maslahah) sebagai persiapan untuk imarah, dan selebihnya dibelikan aset (‘iqar).
  3. Jika sisa tersebut tidak dibelikan aset yang lain, maka mesti diutamakan untuk ‘imarah aset (‘iqar) dibanding imarah mesjid dan mustahiqqin.
  4. Menurut sebagian Ulama Mutaakkhirin : boleh mempergunakan sisa dari hasil harta waqaf (mutlak/ maslahah) untuk tijarah (dijadikan modal usaha).

Hukum menelan sperma

Sperma ternyata mengandung komposisi kimia yang sangat berguna bagi tubuh. Bahkan pernah ada mitos dikalangan wanita bahwa dengan menelan sperma dapat menghaluskan kulit dan bikin awet muda. Benarkah mitos tersebut?
Kalau melihat dari komposisi kimia yang terdapat dalam sperma, sepertinya mitos tersebut dapat dibenarkan. Tetapi para ahli dibidang ini tidak pernah membenarkan. tapi juga tidak pernah menyalahkan mitos tersebut secara ilmiah. Mereka hanya mengatakan tidak apa tertelan asal dari sperma yang sehat dan tidak tertular penyakit.
Namun Bagaimanakah hukumnya menelan Sperma menurut fiqh syafi'ah?
Jawabannya:
Tidak boleh, walaupun ia termasuk benda suci, karena ia termasuk barang yang menjijikkan.

Syarqawy `ala tahrir jilid 1hal 114 cet. Haramain
قوله ما يستقذر ) اى ولو طاهرا كبصاق ومنى ومخاط ويحرم اكل ذلك بعد ان يخرج من معدنه الا لنحو صلاحه كالاعتقاد فاذا اكل بصاق الانسان ومخاطه لنحو صلاحه جاز . اما ما دام فى معدنه فيجوز لصاحبه ابتلاعه
قوله مستقذر الخ )...... بل لا ستقدار ه كمخاط ومنى وغيرهما من المستقذرات بناء على حرمة اكلها وهو الاصح

Majmuk Syarah Muhazzab jilid 2 hal 556 Cet. Dar Kutub Ilmiyah
هل يحل اكل المنى الطاهر فيه وجهان الصحيح المشهور أنه لا يحل لانه مستخبث قال الله تعالي (ويحرم عليهم الخبائث) والثانى يجوز وهو قول الشيخ أبي زيد المروزى لانه طاهر لا ضرر فيه وسنبسط الكلام فيه وفى المخاط واشباهه في كتاب الاطعمة ان شاء الله تعالي

Fathul Jawad Syarah Al Irsyad jild 3 hal 452 Cet. Dar Kutub Ilmiyah
و) لا (قذر) فالمستقذر اصالة كمنى ومخاط ودمع وعرق حرام لأنه خبيث بخلاف القدر لعارض كماء غسل الايدى عقب الاكل واللحم المنتن

hukum hafidh yang lupa ayat Al-Qur'an

Menghafal Al Quran adalah salah satu ibadah yang memiliki nilai yang besar. Namun juga memiliki tanggung jawab yang besar pula, seorang hafidh bila lupa terhadap ayat Al Quran maka akan beresiko mendapat dosa besar. 
Hal ini menjadi salah satu alasan terhadap sebagian besar orang untuk tidak mau menghafal Al Quran, “takut lupa yang berakibat dosa besar” katanya.

Pertanyaan:
  1. Benarkah lupa terhadap hafalan Al Quran beresiko mendapat dosa besar? 
  2. Bagaimanakah batasan lupa yang berakibat dosa besar? 
  3. Bagaimana cara taubat dari dosa lupa ayat Al Quran?

Jawab:
  1.  Benar, lupa terhadap hafalan Al Quran akan beresiko mendapat dosa besar.
  2. Lupa (nisyan bukan sahw) yang dihukumi sebagai dosa besar adalah hilang dari ingatan bilkulliyah (secara menyeluruh), yang tidak mungkin untuk mengembalikan hafalannya kecuali dengan usaha yang keras. Sedangkan lupa, tetapi mampu mengingat kembali setelah mendengar bacaan al quran maka hal ini tidaklah termasuk dosa besar.
  3. Wajib baginya untuk mempergunakan waktu dan berusaha semampu mungkin untuk menghafalnya kembali.

Referensi:
1. Fatawy Kubra Fiqhiyyah jilid 1 hal 36. Cet. Dar Fikr
وسئل رضي الله عنه بما لفظه صرحوا بأن نسيان القرآن كبيرة فكيف ذلك مع خبر الصحيحين لا يقول أحدكم نسيت آية كذا وكذا بل يقول نسيت وخبرهما أنه سمع رجلا يقرأ فقال رحمه الله لقد أذكرني آية كنت أسقطتها وما المراد بالنسيان وهل يعذر به إذا كان لاشتغاله بمعيشة عياله التي لا بد منها وهل يشمل ذلك نسيان الخط بأن كان يقرؤه غيبا ومن المصحف فصار لا يقرؤه إلا غيبا وفي عكسه هل يحرم أيضا ؟
فأجاب بقوله لا تنافي بين الحديثين والحديث الدال على أن نسيان القرآن كبيرة أما الأول فلأن الأمر بأن يقول نسيت بتشديد السين أو أنسيت إنما هو لرعاية الأدب مع الله تعالى في إضافة الأشياء إليه لأنها منه بطريق الحقيقة خيرها وشرها ونسبتها للعبد إنما هي من حيث الكسب والمباشرة فأمرنا برعاية هذه القاعدة العظيمة النفع العزيزة الوقع التي ضل فيها المعتزلة ومن تبعهم كالزيدية فليس في هذا الحديث أن النسيان كبيرة ولا أنه غير كبيرة كما اتضح مما قررته وأما الثاني فهو دليل على أن المراد بالنسيان المحرم أن يكون بحيث لا يمكنه معاودة حفظه الأول إلا بعد مزيد كلفة وتعب لذهابه عن حافظته بالكلية وأما النسيان الذي يمكن معه التذكر بمجرد السماع أو إعمال الفكر فهذا سهو لا نسيان في الحقيقة فلا يكون محرما وتأمل تعبيره صلى الله عليه وسلم بأسقطتها دون أنسيتها يظهر لك ما قلناه ولا يعذر به وإن كان لاشتغاله بمعيشة ضرورية لأنه مع ذلك يمكنه المرور عليه بلسانه أو قلبه فلم يوجد في المعايش ما ينافي هذا المرور فلم يكن شيء منها عذرا في النسيان
نعم المرض المشغل ألمه للقلب واللسان والمضعف للحافظة عن أن يثبت فيها ما كان فيها لا يبعد أن يكون عذرا لأن النسيان الناشئ من ذلك لا يعد به مقصرا لأنه ليس باختياره إذ الفرض أنه شغل قهرا عنه بما لم يمكنه ونسيان الكتابة لا شيء فيه ولو نسيه عن الحفظ الذي كان عنده ولكنه يمكنه أن يقرأه في المصحف لم يمنع ذلك عنه إثم النسيان لأنا متعبدون بحفظه عن ظهر قلب ومن ثم صرح الأئمة بأن حفظه كذلك فرض كفاية على الأمة وأكثر الصحابة كانوا لا يكتبون وإنما يحفظونه عن ظهر قلب وأجاب بعضهم عن الحديث الثاني بأن نسيان مثل الآية أو الآيتين لا عن قصد لا يخلو منه إلا النادر وإنما المراد نسيان ينسب فيه إلى تقصير وهذا غفلة عما قررته من الفرق بين النسيان والإسقاط فالنسيان بالمعنى الذي ذكرته حرام بل كبيرة ولو لآية منه كما صرحوا به بل ولو لحرف كما جزمت به في شرح الإرشاد وغيره لأنه متى وصل به النسيان ولو للحرف إلى أن صار يحتاج في تذكره إلى عمل وتكرير فهو مقصر آثم ومتى لم يصل إلى ذلك بل يتذكره بأدنى تذكير فليس بمقصر وهذا هو الذي قل من يخلو عنه من حفاظ القرآن فسومح به وما قدمته من حرمة النسيان وإن أمكن معه القراءة من المصحف نقله بعضهم عن جماعة من محققي العلماء وهو ظاهر جلي
والله أعلم بالصواب

2. Az Zawajir fi irtikabi Al Kabair jilid hal
الْكَبِيرَةُ الثَّامِنَةُ وَالسِّتُّونَ : نِسْيَانُ الْقُرْآنِ أَوْ آيَةٍ مِنْهُ بَلْ أَوْ حَرْفٍ ) أَخْرَجَ التِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : { عُرِضَتْ عَلَيَّ أُجُورُ أُمَّتِي حَتَّى الْقَذَاةُ يُخْرِجُهَا الرَّجُلُ مِنْ الْمَسْجِدِ وَعُرِضَتْ عَلَيَّ ذُنُوبُ أُمَّتِي فَلَمْ أَرَ ذَنْبًا أَعْظَمَ مِنْ سُورَةٍ مِنْ الْقُرْآنِ أَوْ آيَةٍ أُوتِيَهَا رَجُلٌ ثُمَّ نَسِيَهَا } . وَأَبُو دَاوُد عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ : { مَا مِنْ امْرِئٍ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ ثُمَّ يَنْسَاهُ إلَّا لَقِيَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَجْذَمَ } . وَأَخْرَجَ مُحَمَّدُ بْنُ نَصْرٍ عَنْ أَنَسٍ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : { إنَّ مِنْ أَكْبَرِ ذَنْبٍ تُوَافَى بِهِ أُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَسُورَةً مِنْ كِتَابِ اللَّهِ كَانَتْ مَعَ أَحَدِهِمْ فَنَسِيَهَا } . وَأَخْرَجَ ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ عَنْ الْوَلِيدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي مُغِيثٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : { عُرِضَتْ عَلَيَّ الذُّنُوبُ فَلَمْ أَرَ فِيهَا شَيْئًا أَعْظَمَ مِنْ حَامِلِ الْقُرْآنِ وَتَارِكِهِ } : أَيْ بَعْدَ مَا كَانَ حَامِلَهُ بِأَنْ نَسِيَهُ . وَأَخْرَجَ أَيْضًا عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ : { مَا مِنْ أَحَدٍ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ ثُمَّ يَنْسَاهُ إلَّا لَقِيَ اللَّهَ وَهُوَ أَجْذَمُ } . وَأَخْرَجَ مُحَمَّدُ بْنُ نَصْرٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ : { مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ ثُمَّ نَسِيَهُ لَقِيَ اللَّهَ وَهُوَ أَجْذَمُ } .
تَنْبِيهَاتٌ : عَدُّ نِسْيَانِ الْقُرْآنِ كَبِيرَةً هُوَ مَا جَرَى عَلَيْهِ الرَّافِعِيُّ وَغَيْرُهُ ، لَكِنْ قَالَ فِي الرَّوْضَةِ : إنَّ حَدِيثَ أَبِي دَاوُد وَالتِّرْمِذِيِّ : { عُرِضَتْ عَلَيَّ ذُنُوبُ أُمَّتِي فَلَمْ أَرَ ذَنْبًا أَعْظَمَ مِنْ سُورَةٍ مِنْ الْقُرْآنِ أَوْ آيَةٍ أُوتِيَهَا رَجُلٌ ثُمَّ نَسِيَهَا } فِي إسْنَادِهِ ضَعْفٌ . وَقَدْ تَكَلَّمَ فِيهِ التِّرْمِذِيُّ انْتَهَى . وَكَلَامُ التِّرْمِذِيِّ الَّذِي أَشَارَ إلَيْهِ هُوَ قَوْلُهُ عَقِبَهُ " غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَذَاكَرْتُ بِهِ مُحَمَّدَ بْنَ إسْمَاعِيلَ : أَيْ الْبُخَارِيَّ فَلَمْ يَعْرِفْهُ وَاسْتَغْرَبَهُ . قَالَ مُحَمَّدٌ : وَلَا نَعْرِفُ لِلْمُطَّلِبِ بْنِ حَنْطَبٍ أَيَّ رِوَايَةٍ سَمَاعًا مِنْ أَحَدٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . قَالَ عَبْدُ اللَّهِ : وَأَنْكَرَ عَلِيُّ بْنُ الْمَدِينِيِّ أَنْ يَكُونَ الْمُطَّلِبُ سَمِعَ مِنْ أَنَسٍ . " انْتَهَى كَلَامُ التِّرْمِذِيِّ ، وَبِهِ يُعْلَمُ أَنَّ مُرَادَ النَّوَوِيِّ بِقَوْلِهِ " فِي إسْنَادِهِ ضَعْفٌ " أَيْ انْقِطَاعٌ لَا ضَعْفٌ فِي الرَّاوِي الَّذِي هُوَ الْمُطَّلِبُ لِأَنَّهُ ثِقَةٌ كَمَا قَالَهُ جَمَاعَةٌ . لَكِنْ قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ سَعِيدٍ : لَا يُحْتَجُّ بِحَدِيثِهِ لِأَنَّهُ يُرْسِلُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَثِيرًا وَلَيْسَ لَهُ لِقِيٌّ . وَبَيَّنَ الدَّارَقُطْنِيُّ أَنَّ فِيهِ انْقِطَاعًا آخَرَ وَهُوَ أَنَّ ابْنَ جُرَيْجٍ رَاوِيَهُ عَنْ الْمُطَّلِبِ الْمَذْكُورِ لَمْ يَسْمَعْ مِنْ الْمُطَّلِبِ شَيْئًا كَمَا أَنَّ الْمُطَّلِبَ لَمْ يَسْمَعْ مِنْ أَنَسٍ شَيْئًا فَلَمْ يَثْبُتْ الْحَدِيثُ بِسَبَبِ ذَلِكَ ، وَمَا ذُكِرَ أَنَّهُ لَمْ يَسْمَعْ مِنْ أَحَدٍ مِنْ الصَّحَابَةِ شَيْئًا يَرُدُّ عَلَيْهِ قَوْلُ الْحَافِظِ الْمُنْذِرِيِّ : إنَّهُ رَوَى عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ . وَحَدِيثُ : { مَا مِنْ امْرِئٍ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ ثُمَّ يَنْسَاهُ إلَّا لَقِيَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَجْذَمَ } فِيهِ انْقِطَاعٌ وَإِرْسَالٌ أَيْضًا ، وَسُكُوتُ أَبِي دَاوُد عَلَيْهِ مُعْتَرَضٌ بِأَنَّ فِيهِ يَزِيدَ بْنَ أَبِي زِيَادٍ وَلَيْسَ صَالِحًا لِلِاحْتِجَاجِ بِهِ عِنْدَ كَثِيرِينَ . لَكِنْ قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ الْآجُرِّيُّ عَنْ أَبِي دَاوُد لَا أَعْلَمُ أَحَدًا تَرَكَ حَدِيثَهُ ، وَغَيْرُهُ أَحَبُّ إلَيَّ مِنْهُ . وَقَالَ ابْنُ عَدِيٍّ : هُوَ مِنْ شِيعَةِ أَهْلِ الْكُوفَةِ وَمَعَ ضَعْفِهِ يُكْتَبُ حَدِيثُهُ انْتَهَى ، وَبِالتَّعْبِيرِ فِيهِ بِامْرِئٍ الشَّامِلِ لِلرَّجُلِ وَغَيْرِهِ يُعْلَمُ أَنَّ ذِكْرَ الرَّجُلِ فِي الْحَدِيثِ الَّذِي قَبْلَ هَذَا إنَّمَا هُوَ لِلْغَالِبِ . وَمِنْهَا : الظَّاهِرُ مِنْ الرَّوْضَةِ أَنَّهُ مُوَافِقٌ لِلرَّافِعِيِّ عَلَى مَا مَرَّ عَنْهُ مِنْ أَنَّ ذَلِكَ كَبِيرَةٌ فَإِنَّهُ لَمْ يَعْتَرِضْهُ فِي الْحُكْمِ ، وَإِنَّمَا أَفَادَ أَنَّ الْحَدِيثَ ضَعِيفٌ عَلَى مَا مَرَّ ، وَمِنْ ثَمَّ جَرَى مُخْتَصِرُو الرَّوْضَةِ وَغَيْرُهُمْ عَلَى ذَلِكَ ، وَبِهِ يَتَّضِحُ قَوْلُ الصَّلَاحِ الْعَلَائِيِّ فِي قَوَاعِدِهِ : إنَّ النَّوَوِيَّ قَالَ : اخْتِيَارِي أَنَّ نِسْيَانَ الْقُرْآنِ مِنْ الْكَبَائِرِ لِحَدِيثٍ فِيهِ انْتَهَى ، فَأَرَادَ بِاخْتِيَارِهِ لِذَلِكَ أَنَّهُ أَقَرَّ الرَّافِعِيَّ عَلَيْهِ وَذَلِكَ مُشْعِرٌ بِاخْتِيَارِهِ وَاعْتِمَادِهِ . نَعَمْ قَوْلُهُ " لِحَدِيثٍ فِيهِ " فِيهِ نَظَرٌ لِأَنَّهُ لَمْ يَخْتَرْهُ لِذَلِكَ الْحَدِيثِ ، كَيْفَ وَهُوَ مُصَرِّحٌ بِضَعْفِ ذَلِكَ الْحَدِيثِ وَالطَّعْنِ فِيهِ ، وَإِنَّمَا سَبَبُ تَقْرِيرِهِ لِلرَّافِعِيِّ عَلَى ذَلِكَ اتِّضَاحُهُ مِنْ جِهَةِ الْمَعْنَى وَإِنْ كَانَ فِي دَلِيلِهِ شَيْءٌ عَلَى أَنَّ الَّذِي مَرَّ أَنَّ فِيهِ انْقِطَاعًا وَإِرْسَالًا ، وَقَدْ يُؤْخَذُ مِنْ تَعْدَادِ طُرُقِهِ الَّتِي أَشَرْت إلَيْهَا فِيمَا مَرَّ جَبْرُ مَا فِيهِ . وَبِمَا وَجَّهْت بِهِ كَلَامَ الْعَلَائِيِّ مَعَ النَّظَرِ فِيهِ مِنْ الْجِهَةِ السَّابِقَةِ يُعْلَمُ مَا فِي قَوْلِ الْجَلَالِ الْبُلْقِينِيِّ لَمْ يَظْهَرْ مِنْ كَلَامِ النَّوَوِيِّ اخْتِيَارُ كَوْنِهِ كَبِيرَةً خِلَافًا لِلْعَلَائِيِّ ، وَبِذَلِكَ أَيْضًا يُرَدُّ قَوْلُ الزَّرْكَشِيّ : إنَّهُ فِي الرَّوْضَةِ خَالَفَ الرَّافِعِيَّ فِي كَوْنِ نِسْيَانِ الْقُرْآنِ كَبِيرَةً . وَمِنْهَا : قَالَ الْخَطَّابِيُّ : قَالَ أَبُو عُبَيْدَةَ : الْأَجْذَمُ الْمَقْطُوعُ الْيَدِ . وَقَالَ ابْنُ قُتَيْبَةَ : الْأَجْذَمُ هَاهُنَا الْمَجْذُومُ . وَقَالَ ابْنُ الْأَعْرَابِيِّ : مَعْنَاهُ لَا حُجَّةَ لَهُ وَلَا خَيْرَ فِيهِ . وَجَاءَ مِثْلُهُ عَنْ سُوَيْد بْنِ غَفَلَةَ . وَمِنْهَا : قَالَ الْجَلَالُ الْبُلْقِينِيُّ وَالزَّرْكَشِيُّ وَغَيْرُهُمَا : مَحَلُّ كَوْنِ نِسْيَانِهِ كَبِيرَةً عِنْدَ مَنْ قَالَ بِهِ إذَا كَانَ عَنْ تَكَاسُلٍ وَتَهَاوُنٍ انْتَهَى ، وَكَأَنَّهُ احْتَرَزَ بِذَلِكَ عَمَّا لَوْ اشْتَغَلَ عَنْهُ بِنَحْوِ إغْمَاءٍ أَوْ مَرَضٍ مَانِعٍ لَهُ مِنْ الْقِرَاءَةِ وَغَيْرِهِمَا مِنْ كُلِّ مَا لَا يَتَأَتَّى مَعَهُ الْقِرَاءَةُ ، وَعَدَمُ التَّأْثِيمِ بِالنِّسْيَانِ حِينَئِذٍ وَاضِحٌ لِأَنَّهُ مَغْلُوبٌ عَلَيْهِ لَا اخْتِيَارَ لَهُ فِيهِ بِوَجْهٍ بِخِلَافِ مَا إذَا اشْتَغَلَ عَنْهُ بِمَا يُمْكِنُهُ الْقِرَاءَةُ مَعَهُ ، وَإِنْ كَانَ مَا اشْتَغَلَ بِهِ أَهَمَّ وَآكَدَ كَتَعَلُّمِ الْعِلْمِ الْعَيْنِيِّ لِأَنَّهُ لَيْسَ مِنْ شَأْنِ تَعَلُّمِهِ الِاشْتِغَالُ بِهِ عَنْ الْقُرْآنِ الْمَحْفُوظِ حَتَّى نَسِيَ ، وَيُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِمْ إنَّ نِسْيَانَ آيَةٍ مِنْهُ كَبِيرَةٌ أَيْضًا أَنَّهُ يَجِبُ عَلَى مَنْ حَفِظَهُ بِصِفَةٍ مِنْ إتْقَانٍ أَوْ تَوَسُّطٍ أَوْ غَيْرِهِمَا كَأَنْ كَانَ يَتَوَقَّفُ فِيهِ أَوْ يَكْثُرُ غَلَطُهُ فِيهِ أَنْ يَسْتَمِرَّ عَلَى تِلْكَ الصِّفَةِ الَّتِي حَفِظَهُ عَلَيْهَا فَلَا يَحْرُمُ عَلَيْهِ إلَّا نَقْصُهَا مِنْ حَافِظَتِهِ ، أَمَّا زِيَادَتُهَا عَلَى مَا كَانَ فِي حَافِظَتِهِ فَهُوَ وَإِنْ كَانَ أَمْرًا مُؤَكَّدًا يَنْبَغِي الِاعْتِنَاءُ بِهِ لِمَزِيدِ فَضْلِهِ إلَّا أَنَّ عَدَمَهُ لَا يُوجِبُ إثْمًا . وَحَمَلَ أَبُو شَامَةَ شَيْخُ النَّوَوِيِّ وَتِلْمِيذُ ابْنِ الصَّلَاحِ الْأَحَادِيثَ فِي ذَمِّ نِسْيَانِ الْقُرْآنِ عَلَى تَرْكِ الْعَمَلِ ، لِأَنَّ النِّسْيَانَ هُوَ التَّرْكُ لِقَوْلِهِ تَعَالَى : { وَلَقَدْ عَهِدْنَا إلَى آدَمَ مِنْ قَبْلُ فَنَسِيَ } قَالَ : وَلِلْقُرْآنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَالَتَانِ : إحْدَاهُمَا : الشَّفَاعَةُ لِمَنْ قَرَأَهُ وَلَمْ يَنْسَ الْعَمَلَ بِهِ . وَالثَّانِيَةُ : الشِّكَايَةُ عَلَى مَنْ نَسِيَهُ : أَيْ تَرَكَهُ تَهَاوُنًا بِهِ وَلَمْ يَعْمَلْ بِمَا فِيهِ ، قَالَ : وَلَا يَبْعُدُ أَنْ يَكُونَ مَنْ تَهَاوَنَ بِهِ حَتَّى نَسِيَ تِلَاوَتَهُ كَذَلِكَ انْتَهَى . وَهَذَا الَّذِي زَعَمَ أَنَّهُ لَا يَبْعُدُ هُوَ الْمُتَبَادَرُ مِنْ النِّسْيَانِ الْوَاقِعِ فِي الْأَحَادِيثِ السَّابِقَةِ فَهُوَ الْمُرَادُ مِنْهَا خِلَافًا لِمَا زَعَمَهُ . وَسَيَأْتِي فِي حَدِيثِ الْبُخَارِيِّ فِي كِتَابِ الصَّلَاةِ تَشْدِيدٌ عَظِيمٌ وَعَذَابٌ أَلِيمٌ لِمَنْ أَخَذَ الْقُرْآنَ ثُمَّ رَفَضَهُ وَنَامَ عَنْ الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ ، وَهَذَا ظَاهِرٌ فِي النِّسْيَانِ أَيْضًا . وَمِنْهَا : قَالَ الْقُرْطُبِيُّ : لَا يُقَالُ حِفْظُ جَمِيعِ الْقُرْآنِ لَيْسَ وَاجِبًا عَلَى الْأَعْيَانِ ، فَكَيْفَ يُذَمُّ مَنْ تَغَافَلَ عَنْ حِفْظِهِ ؟ لِأَنَّا نَقُولُ : مَنْ جَمَعَهُ فَقَدْ عَلَتْ رُتْبَتُهُ وَشَرُفَ فِي نَفْسِهِ وَقَوْمِهِ ، وَكَيْفَ لَا ؟ وَمَنْ حَفِظَهُ فَقَدْ أُدْرِجَتْ النُّبُوَّةُ بَيْنَ جَنْبَيْهِ ، وَصَارَ مِمَّنْ يُقَالُ : فِيهِ هُوَ مِنْ أَهْلِ اللَّهِ وَخَاصَّتِهِ ، فَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ فَمِنْ الْمُنَاسِبِ تَغْلِيظُ الْعُقُوبَةِ عَلَى مَنْ أَخَلَّ بِمَرْتَبَتِهِ الدِّينِيَّةِ ، وَمُؤَاخَذَتُهُ بِمَا لَا يُؤَاخَذُ بِهِ غَيْرُهُ ، وَتَرْكُ مُعَاهَدَةِ الْقُرْآنِ يُؤَدِّي إلَى الْجَهَالَةِ انْتَهَى

3. Khazinatul Asrar hal 54 cet. Haramain
وفى الحديث المشهور قال عليه الصلاة والسلام وَعُرِضَتْ عَلَيَّ ذُنُوبُ أُمَّتِي فَلَمْ أَرَ أَعْظَمَ ذَنْبًا مِنْ رجل اوتي اية اى حفظها فنسيها ثم النسيان عند علمائنا محمول على حال لم يقدر على قراءتها بالنظر سواء كان حافظا ام لا والله اعلم وذلك مأخوذ من قوله تعالى أَتَتْكَ آَيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى كذا ذكره على القارىء فى شرح المشكاة
4. Hasyiah Ali Syibra Malasy `ala Nihayatul Muhtaj jilid 2 hal 434 cet. Dar Fikr
قوله : وقضاء فوائت ) قال حج في حاشية الإيضاح : ومنها قضاء نحو صلاة وإن كثرت ، ويجب عليه صرف سائر زمنه لذلك ما عدا الوقت الذي يحتاجه لصرف ما عليه من مؤنة نفسه وعياله ، وكذا يقال في نسيان القرآن أو بعضه بعد البلوغ اهـ.
أقول : وهو واضح إن قدر على قضائها في زمن يسير . أما لو كانت عليه صلوات كثيرة جدا وكان يستغرق قضاؤها زمنا كثيرا فينبغي أن يكفي في صحة توبته عزمه على قضائها مع الشروع فيه حتى لو مات زمن القضاء لم يمت عاصيا ، وكذا لو زوج موليته في هذه الحالة فتزويجه صحيح ؛ لأنه فعل ما في مقدوره أخذا من قول الشارح وخروج عن مظلمة قدر عليها

Nash ini juga dinaqal dalam beberapa kitab lain seperti Hasyiah Syarwani jilid 3 hal 100 Dar Fikr, Hasyiah Jamal dan Bujairimy.